Bakteri, dari kata Latin bacterium (jamak, bacteria), adalah kelompok terbanyak dari organisme hidup. Mereka sangatlah kecil (mikroskopik) dan kebanyakan uniselular (bersel tunggal), dengan struktur sel yang relatif sederhana tanpa nukleus/inti sel, cytoskeleton, dan organel lain seperti mitokondria dan kloroplas. Struktur sel mereka dijelaskan lebih lanjut dalam artikel mengenai prokariota, karena bakteri merupakan prokariota, untuk membedakan mereka dengan organisme yang memiliki sel lebih kompleks, disebut eukariota. Istilah "bakteri" telah diterapkan untuk semua prokariota atau untuk kelompok besar mereka, tergantung pada gagasan mengenai hubungan mereka.
Bakteri adalah yang paling berkelimpahan dari semua organisme. Mereka tersebar (berada di mana-mana) di tanah, air, dan sebagai simbiosis dari organisme lain. Banyak patogen merupakan bakteri. Kebanyakan dari mereka kecil, biasanya hanya berukuran 0,5-5 μm, meski ada jenis dapat menjangkau 0,3 mm dalam diameter (Thiomargarita). Mereka umumnya memiliki dinding sel, seperti sel tumbuhan dan jamur, tetapi dengan komposisi sangat berbeda (peptidoglikan). Banyak yang bergerak
menggunakan flagela, yang berbeda dalam strukturnya dari flagela kelompok lain.
Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Bakteri
Sabtu, 03 Juli 2010
Bakteri
Dari asal kata Bakterion (yunani = batang kecil). Di dalam klasifikasi bakteri digolongkan dalam Divisio Schizomycetes.
CIRI-CIRI UMUM
- Tubuh uniseluler (bersel satu)
- Tidak berklorofil (meskipun begitu ada beberapa jenis bakteri yang memiliki pigmen seperti klorofil sehingga mampu berfotosintesis dan hidupnya autotrof
- Reproduksi dengan cara membelah diri (dengan pembelahan Amitosis)
- Habitat: bakteri hidup dimana-mana (tanah, air, udara, mahluk hidup)
- Satuan ukuran bakteri adalah mikron (10-3)

Gbr. arsitektur suatu sel bakteri yang khas
BENTUK-BENTUK BAKTERI
- Kokus : bentuk bulat, monokokus, diplokokus, streptokokus,
stafilokokus, sarkina
- Basil : bentuk batang, diplobasil, streptobasil
- Spiral : bentuk spiral, spirilium (spiri kasar), spirokaet (spiral halus)
- Vibrio : bentuk koma
ALAT GERAK BAKTERI
Beberapa bakteri mampu bergerak dengan menggunakan bulu cambuk/flagel. Berdasarkan ada tidaknya flagel dan kedudukan flagel tersebut, kita mengenal 5 macam bakteri. - Atrich : bakteri tidak berflagel. contoh: Escherichia coli
- Monotrich : mempunyai satu flagel salah satu ujungnya. contoh:
Vibrio cholera
- Lopotrich : mempunyai lebih dari satu flagel pada salah satu
ujungnya. contoh: Rhodospirillum rubrum
- Ampitrich : mempunyai satu atau lebih flagel pada kedua
ujungnya. contoh: Pseudomonas aeruginosa
- Peritrich : mempunyai flagel pada seluruh permukaan tubuhnya.
contoh: salmonella typhosa
NUTRISI BAKTERI
Dengan dasar cara memperoleh makanan, bakteri dapat dibedakan menjadi dua:
Bakteri heterotrof: bakteri yang tidak dapat mensintesis makanannya sendiri. Kebutuhan makanan tergantung dari mahluk lain. Bakteri saprofit dan bakteri parasit tergolong bakteri heterotrof.
Bakteri autotrofl bakteri yagn dapat mensistesis makannya sendiri. Dibedakan menjadi dua yaitu (1) bakteri foto autotrof dan (2) bakteri kemoautotrof.
KEBUTUHAN AKAN OKSIGEN BEBAS
Dengan dasar kebutuhan akan oksigen bebas untuk kegiatan respirasi, bakteri dibagi menjadi 2:
- Bakteri aerob: memerlukan O2 bebas untuk kegiatan respirasinya
- Bakteri anaerob : tidak memerlukan O2 bebas untu kegiatan
respirasinya.
PERTUMBUHAN BAKTERI
dipengaruhi oleh beberapa faktor :
Temperatur, umumnya bakteri tumbuh baik pada suhu antara 25 - 35 derajat C.
Kelmbaban, lingkungan lembab dan tingginya kadar air sangat menguntungkan untuk pertumbuhan bakteri
Sinar Matahari, sinar ultraviolet yang terkandung dalam sinar matahari dapat mematikan bakteri.
Zat kimia, antibiotik, logam berat dan senyawa-senyawa kimia tertentu dapat menghambat bahkan mematikan bakteri.
PERANAN BAKTERI DALAM KEHIDUPAN
1. Sebagai Mahluk Pengurai/Saprovor.
Bersama-sama dengan jamur, bakteri berperan sebagai pengurai
mahluk-mahluk yang sudah mati
2. Penghasil Antibiotik.
Dari bakteri golongan Actinomycetes (bentuk peralihan antara bakteri
dan jamur) dihasilkan bermacam-macam antibiotik. Misalnya:
Streptomisin >> dari Streptomyces griseus, Kloramfemikol >> dari
Streptomyces venezuelae.
3. Penghasil Bahan Pangan.
- Asam cuka >> dari Acetobacter acetil
- Yoghurt >> dari Lactobacillurs bulgaricus
- Sari kelapa/Nata de Coco >> dari Acetobacter xylinum
4. Pengikat N2 bebas di udara:
Bersimbiosis dengan tanaman Leguminosae (tanaman buah polong)
- Rhizobium leguminosarum dan R. radicicola.
Hidup bebas :
- Azotobacter, Rhodospirillum rubrum, Clostridium pasteurianum.
MERUGIKAN MAHLUK LAIN
Bakteri patogen adalah bakteri parasit yang dapat menimbulkan penyakit pada organisme lain.
Pada tumbuhan misalnya:
Xanthomonas citri >> penyebab kanker batang jeruk.
Erwinia trachelphilia >> penyebab penyakit busuk daun labu.
Pada hewan misalnya:
Bacillus antraxis >> penyebab penyakit anthrax pada hewan ternak.
Actynomyces bovis >> penyebab penyakit bengkak pada rahang sapi.
Pada manusia misalnya:
Salmonella thyphosa >> penyebab penyakit tifus
Mycobacterium tuberculosis >> penyebab penyakit TBC
Mycobacterium leprae >> penyebab penyakit lepra
Treponema pallidum >> penyebab penyakit sifilis
Shigella dysentriae >> penyebab penyakit disentri basiler
Diplococcus pneumoniae >> penyebab penyakit radang paru-paru
Vibrio cholera >> penyebab penyakit kolera
TINDAKAN PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN
TERHADAP PENYAKIT BAKTERI
1.Tindakan pencegahan dengan pemberian vaksin.
Misalnya vaksin BCG >> pencegahan terhadap penyakit TBC
Vaksin DPT >> pencegahan penyakit difteri, pertusis dan tetanus
2.Tindakan pengobatan:
Dapat dengan cara pemberian antibiotik
PENGAWETAN MAKANAN
1. Cara-cara tradisional >> pengasapan, penggaraman, pengeringan,
pemanisan
2. Cara-cara modern -> Sterilisasi, Pasteurisasi, pendinginan,
penggunaan bahan kima dan teknik iradiasi
Sumber :
http://kambing.ui.ac.id/bebas/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/0010%20Bio%201-2b2.htm
CIRI-CIRI UMUM
- Tubuh uniseluler (bersel satu)
- Tidak berklorofil (meskipun begitu ada beberapa jenis bakteri yang memiliki pigmen seperti klorofil sehingga mampu berfotosintesis dan hidupnya autotrof
- Reproduksi dengan cara membelah diri (dengan pembelahan Amitosis)
- Habitat: bakteri hidup dimana-mana (tanah, air, udara, mahluk hidup)
- Satuan ukuran bakteri adalah mikron (10-3)

Gbr. arsitektur suatu sel bakteri yang khas
BENTUK-BENTUK BAKTERI
- Kokus : bentuk bulat, monokokus, diplokokus, streptokokus,
stafilokokus, sarkina
- Basil : bentuk batang, diplobasil, streptobasil
- Spiral : bentuk spiral, spirilium (spiri kasar), spirokaet (spiral halus)
- Vibrio : bentuk koma
ALAT GERAK BAKTERI
Beberapa bakteri mampu bergerak dengan menggunakan bulu cambuk/flagel. Berdasarkan ada tidaknya flagel dan kedudukan flagel tersebut, kita mengenal 5 macam bakteri. - Atrich : bakteri tidak berflagel. contoh: Escherichia coli
- Monotrich : mempunyai satu flagel salah satu ujungnya. contoh:
Vibrio cholera
- Lopotrich : mempunyai lebih dari satu flagel pada salah satu
ujungnya. contoh: Rhodospirillum rubrum
- Ampitrich : mempunyai satu atau lebih flagel pada kedua
ujungnya. contoh: Pseudomonas aeruginosa
- Peritrich : mempunyai flagel pada seluruh permukaan tubuhnya.
contoh: salmonella typhosa
NUTRISI BAKTERI
Dengan dasar cara memperoleh makanan, bakteri dapat dibedakan menjadi dua:
Bakteri heterotrof: bakteri yang tidak dapat mensintesis makanannya sendiri. Kebutuhan makanan tergantung dari mahluk lain. Bakteri saprofit dan bakteri parasit tergolong bakteri heterotrof.
Bakteri autotrofl bakteri yagn dapat mensistesis makannya sendiri. Dibedakan menjadi dua yaitu (1) bakteri foto autotrof dan (2) bakteri kemoautotrof.
KEBUTUHAN AKAN OKSIGEN BEBAS
Dengan dasar kebutuhan akan oksigen bebas untuk kegiatan respirasi, bakteri dibagi menjadi 2:
- Bakteri aerob: memerlukan O2 bebas untuk kegiatan respirasinya
- Bakteri anaerob : tidak memerlukan O2 bebas untu kegiatan
respirasinya.
PERTUMBUHAN BAKTERI
dipengaruhi oleh beberapa faktor :
Temperatur, umumnya bakteri tumbuh baik pada suhu antara 25 - 35 derajat C.
Kelmbaban, lingkungan lembab dan tingginya kadar air sangat menguntungkan untuk pertumbuhan bakteri
Sinar Matahari, sinar ultraviolet yang terkandung dalam sinar matahari dapat mematikan bakteri.
Zat kimia, antibiotik, logam berat dan senyawa-senyawa kimia tertentu dapat menghambat bahkan mematikan bakteri.
PERANAN BAKTERI DALAM KEHIDUPAN
1. Sebagai Mahluk Pengurai/Saprovor.
Bersama-sama dengan jamur, bakteri berperan sebagai pengurai
mahluk-mahluk yang sudah mati
2. Penghasil Antibiotik.
Dari bakteri golongan Actinomycetes (bentuk peralihan antara bakteri
dan jamur) dihasilkan bermacam-macam antibiotik. Misalnya:
Streptomisin >> dari Streptomyces griseus, Kloramfemikol >> dari
Streptomyces venezuelae.
3. Penghasil Bahan Pangan.
- Asam cuka >> dari Acetobacter acetil
- Yoghurt >> dari Lactobacillurs bulgaricus
- Sari kelapa/Nata de Coco >> dari Acetobacter xylinum
4. Pengikat N2 bebas di udara:
Bersimbiosis dengan tanaman Leguminosae (tanaman buah polong)
- Rhizobium leguminosarum dan R. radicicola.
Hidup bebas :
- Azotobacter, Rhodospirillum rubrum, Clostridium pasteurianum.
MERUGIKAN MAHLUK LAIN
Bakteri patogen adalah bakteri parasit yang dapat menimbulkan penyakit pada organisme lain.
Pada tumbuhan misalnya:
Xanthomonas citri >> penyebab kanker batang jeruk.
Erwinia trachelphilia >> penyebab penyakit busuk daun labu.
Pada hewan misalnya:
Bacillus antraxis >> penyebab penyakit anthrax pada hewan ternak.
Actynomyces bovis >> penyebab penyakit bengkak pada rahang sapi.
Pada manusia misalnya:
Salmonella thyphosa >> penyebab penyakit tifus
Mycobacterium tuberculosis >> penyebab penyakit TBC
Mycobacterium leprae >> penyebab penyakit lepra
Treponema pallidum >> penyebab penyakit sifilis
Shigella dysentriae >> penyebab penyakit disentri basiler
Diplococcus pneumoniae >> penyebab penyakit radang paru-paru
Vibrio cholera >> penyebab penyakit kolera
TINDAKAN PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN
TERHADAP PENYAKIT BAKTERI
1.Tindakan pencegahan dengan pemberian vaksin.
Misalnya vaksin BCG >> pencegahan terhadap penyakit TBC
Vaksin DPT >> pencegahan penyakit difteri, pertusis dan tetanus
2.Tindakan pengobatan:
Dapat dengan cara pemberian antibiotik
PENGAWETAN MAKANAN
1. Cara-cara tradisional >> pengasapan, penggaraman, pengeringan,
pemanisan
2. Cara-cara modern -> Sterilisasi, Pasteurisasi, pendinginan,
penggunaan bahan kima dan teknik iradiasi
Sumber :
http://kambing.ui.ac.id/bebas/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/0010%20Bio%201-2b2.htm
Babi: Gudang Parasit dan Bakteri Berbahaya
Babi adalah hewan yang sangat kotor, dia biasanya memakan segala sesuatu yang diberikan kepadanya, baik kotoran maupun bangkai bahkan kotorannya sendiri atau kotoran manusia akan dia makan. Babi memiliki tabiat malas, tidak suka cahaya matahari, tidak suka berjalan-jalan, sangat suka makan dan tidur, memiliki sifat paling tamak. Semakin bertambah usia, babi akan semakin bodoh dan malas, tidak memiliki kehendak dan berjuang bahkan untuk membela diri sendiri saja enggan.
Oleh karena itu babi, banyak menimbulkan penyakit pada manusia. Babi dianggap hewan yang tidak layak dikonsumsi. Di antara parasit-parasit ini adalah sebagai berikut:
1. Cacing Taenia Solium
Parasit ini berupa larva yang berbentuk gelembung pada daging babi atau berbentuk butiran-butiran telur pada usus babi. Jika seseorang memakan daging babi tanpa dimasak dengan baik, maka dinding-dinding gelembung ini akan dicerna oleh perut manusia, dan larva-larva itu kemudian akan tumbuh di usus manusia. Peristiwa ini akan menghalangi perkembangan tubuh dan akan membentuk cacing pita yang panjangnya bisa mencapai 10 kaki, yang menempel di dinding usus dengan cara menempelkan kepalanya lalu menyerap unsur-unsur makanan yang ada di lambung. Hal itu bisa menyebabkan seseorang kekurangan darah dan gangguan pencernaan, karena cacing ini dapat mengeluarkan racun.
Apabila pada diri seseorang — khususnya anak-anak– telah diketahui terdapat cacing ini di lambungnya, maka dia akan mengalami histeria atau perasaan cemas. Terkadang larva yang ada di dalam usus manusia ini akan memasuki saluran peredaran darah dan terus menyebar ke seluruh tubuh, termasuk otak, hati, saraf tulang belakang, dan paru-paru. Dalam kondisi seperti ini cacing tersebut dapat menyebabkan penyakit yang mematikan.
2. Cacing Trichinila Spiralis
Cacing ini ada pada babi dalam bentuk gelembung-gelembung lembut. Jika seseorang mengonsumsi daging babi tanpa dimasak dengan baik, maka gelembung-gelembung — yang mengandung larva cacing ini — dapat tinggal di otot dan daging manusia, sekat antara paru dan jantung, dan di daerah-daerah lain di tubuh. Penyerangan cacing ini pada otot dapat menyebabkan rasa sakit yang luar biasa dan menyebabkan gerakan jadi lambat, ditambah lagi sulit melakukan aktivitas. Sedang keberadaannya di sekat tersebut akan mempersempit pernafasan, yang bisa berakhir pada kematian.
3. Cacing Schistosoma Japonicum
Ini adalah cacing yang lebih berbahaya daripada cacing schistosoma yang dikenal di Mesir. Dan babi adalah satu-satunya binatang yang mengandung caciong ini. Cacing ini dapat menyerang manusia apabila mereka menyentuh atau mencuci dengan air yang mengandung larva cacing ini yang biasanya datang dari kotoran babi yang masuk ke dalamnya. Cacing ini dapat membakar kulit manusia serta dapat menyelinap ke dalam darah, paru, dan hati. Cacing ini berkembang sangat cepat, dalam sehari bisa mencapai lebih dari 20000 telur, yang dapat membakar kulit, lambung dan hati, terkadang dapat menyerang otak dan saraf tulang belakang yang bisa menyebabkan kelumpuhan dan kematian.
4. Fasciolepsis Buski
Parasit ini hidup di usus halus babi dalam waktu yang lama. Ketika terjadi percampuran antara usus dan tinja, parasit ini akan berada dalam bentuk tertentu yang bersifat cair yang bisa memindahkan penyakit pada manusia. Kebanyakan jenis parasit ini terdapat di daerah Cina dan Asia Timur. Parasit ini bisa menyebabkan gangguan pencernaan, diare dan pembengkakan di sekujur tubuh, yang bisa menyebabkan kematian.
5. Cacing Ascaris
Panjang cacing ini sekitar 10 inci. Cacing ini bisa menyebabkan radang paru, batang tenggorokan, dan penyumbatan lambung. Cacing ini tidak bisa dibasmi di dalam tubuh kecuali dengan operasi.
6. Cacing Anklestoma
Larva cacing ini masuk ke dalam tubuh dengan cara membakar kulit ketika seseorang berjalan, mandi atau minum air yang tercemar. Cacing ini bisa menyebabkan diare dan pendarahan di tinja, yang bisa menyebabkan terjadinya kekurangan darah, kekurangan protein dalam tubuh, pembengkakan tubuh dan menyebabkan seorang anak mengalami keterlambatan dalam pertumbuhan fisik dan mental, lemah jantung dan akhirnya bisa menyebabkan kematian.
7. Calonorchis Sinensis
Ini sejenis cacing yang menyelinap dan tinggal di dalam air empedu hati babi, yang merupakan sumber utama penularan penyakit pada manusia. Cacing ini terdapat di Cinda dan Asia Timur, karena orang-orang di sana biasa memelihara dan mengonsumsi babi. Virus ini bisa menyebabkan pembengkakan hati manusia dan penyakit kuning yang disertai diare yang parah, dan tubuh menjadi kurus dan berakhir dengan kematian.
8. Cacing Paragonimus
Cacing ini hidup di paru-paru babi. Cacing ini tersebar luas di Cina dan Asia Tenggara tempat dimana babi banyak dipelihara dan dikonsumsi. Cacing ini bisa menyebabkan radang pada paru-paru. Sampai sekarang belum ditemukan cara membunuh cacing di dalam paru-paru. Tapi yang jelas cacing ini tidak terdapat, kecuali di tempat babi hidup. Parasit ini bisa menyebabkan pendarahan paru-paru kronis, dimana penderitanya akan merasa sakit, ludah berwarna coklat seperti karat, karena terjadi pendarahan pada kedua paru.
9. Swine Erysipelas
Parasit ini terdapat di kulit babi. Parasit ini selalu siap pembakaran pada klit manusia yang mencoba mendekati atau berinteraksi dengannya. Parasit ini bisa menyebabkan radang kulit manusia yang memperlihatkan warna merah dan suhu tubuh tinggi.
Sedang kuman-kuman yang ada pada babi dapat menyebabkan berbagai macam penyakit, antara lain:
1. TBC
Penyakit ini mungkin berasal dari babi yang dagingnya dimakan oleh manusia tanpa dimasak dengan baik. Bisa juga terjadi hanya dengan menyentuhnya.
2. Cacar (Small Pox)
Virus ini pindah dari babi ke tubuh manusia dengan cara persentuhan atau memakan daging yang terkena penyakit ini.
3. Gatal-Gatal (Scabies)
Penyakit ini bisa mengenai manusia dengan cara menyentuh kulit babi.
4. Kuman Rusiformas
Yaitu kuman yang bisa melakukan pembusukan pada kedua kaki dan sulit untuk disembuhkan.
5. Salmonella Choler Suis
6. Blantidium Coli
Babi dianggap sebagai hewan utama yang menjadi tempat tumbuh suburnya parasit ini, yang menyebabkan disentri parah pada seseorang.
7. Mikroba Brocellosis
Kotoran babi dianggap sebagai sumber utama munculnya mikroba ini. Penyakit yang ditimbulkan oleh mikroba ini sangat menular yang dapat menimbulkan penyakit di daerah sekitarnya, serta bisa menyebabkan demam malta fever pada manusia.
8. Mikroba Toxoplasma Gondi
Mikroba ini banyak sekali terdapat di tempat-tempat pemeliharaan babi. Penyakit ini menyerang manusia melalui makanan yang tercemar oleh kotoran babi atau menghirup udara atau debu yang mengandung gelembung-gelembung mikroba ini.
Mikroba ini bisa masuk pada getah bening, limpa dan hati. Hal itu menyebabkan demam yang panjang dan menurunnya imunitas tubuh, radang otot dan jantung. Serta bisa menyebabkan gangguan pernafasan, karena mikroba ini juga menyerang paru. Bisa juga menyerang mata berupa peradangan parah pada daerah mata, yang akhirnya bisa menyebabkan kebutaan.
Mikroba ini pun bisa menyerang sel-sel telinga bagian dalam yang bisa menyebabkan ketulian. Terkadang menyerang wanita hamil, yang karenanya janin yang lahir akan meninggal beberapa hari atau beberapa minggu setelah kelahiran. Atau bisa juga, bayi akan lahir dalam keadaan cacat.
Sumber:
Buku Pola Makan Rasulullah oleh Prof. Dr. Abdul Basith Muhammad, dalam :
http://www.halalguide.info/2009/05/15/babi-gudang-parasit-bakteri-berbahaya/
15 Mei 2009
Oleh karena itu babi, banyak menimbulkan penyakit pada manusia. Babi dianggap hewan yang tidak layak dikonsumsi. Di antara parasit-parasit ini adalah sebagai berikut:
1. Cacing Taenia Solium
Parasit ini berupa larva yang berbentuk gelembung pada daging babi atau berbentuk butiran-butiran telur pada usus babi. Jika seseorang memakan daging babi tanpa dimasak dengan baik, maka dinding-dinding gelembung ini akan dicerna oleh perut manusia, dan larva-larva itu kemudian akan tumbuh di usus manusia. Peristiwa ini akan menghalangi perkembangan tubuh dan akan membentuk cacing pita yang panjangnya bisa mencapai 10 kaki, yang menempel di dinding usus dengan cara menempelkan kepalanya lalu menyerap unsur-unsur makanan yang ada di lambung. Hal itu bisa menyebabkan seseorang kekurangan darah dan gangguan pencernaan, karena cacing ini dapat mengeluarkan racun.
Apabila pada diri seseorang — khususnya anak-anak– telah diketahui terdapat cacing ini di lambungnya, maka dia akan mengalami histeria atau perasaan cemas. Terkadang larva yang ada di dalam usus manusia ini akan memasuki saluran peredaran darah dan terus menyebar ke seluruh tubuh, termasuk otak, hati, saraf tulang belakang, dan paru-paru. Dalam kondisi seperti ini cacing tersebut dapat menyebabkan penyakit yang mematikan.
2. Cacing Trichinila Spiralis
Cacing ini ada pada babi dalam bentuk gelembung-gelembung lembut. Jika seseorang mengonsumsi daging babi tanpa dimasak dengan baik, maka gelembung-gelembung — yang mengandung larva cacing ini — dapat tinggal di otot dan daging manusia, sekat antara paru dan jantung, dan di daerah-daerah lain di tubuh. Penyerangan cacing ini pada otot dapat menyebabkan rasa sakit yang luar biasa dan menyebabkan gerakan jadi lambat, ditambah lagi sulit melakukan aktivitas. Sedang keberadaannya di sekat tersebut akan mempersempit pernafasan, yang bisa berakhir pada kematian.
3. Cacing Schistosoma Japonicum
Ini adalah cacing yang lebih berbahaya daripada cacing schistosoma yang dikenal di Mesir. Dan babi adalah satu-satunya binatang yang mengandung caciong ini. Cacing ini dapat menyerang manusia apabila mereka menyentuh atau mencuci dengan air yang mengandung larva cacing ini yang biasanya datang dari kotoran babi yang masuk ke dalamnya. Cacing ini dapat membakar kulit manusia serta dapat menyelinap ke dalam darah, paru, dan hati. Cacing ini berkembang sangat cepat, dalam sehari bisa mencapai lebih dari 20000 telur, yang dapat membakar kulit, lambung dan hati, terkadang dapat menyerang otak dan saraf tulang belakang yang bisa menyebabkan kelumpuhan dan kematian.
4. Fasciolepsis Buski
Parasit ini hidup di usus halus babi dalam waktu yang lama. Ketika terjadi percampuran antara usus dan tinja, parasit ini akan berada dalam bentuk tertentu yang bersifat cair yang bisa memindahkan penyakit pada manusia. Kebanyakan jenis parasit ini terdapat di daerah Cina dan Asia Timur. Parasit ini bisa menyebabkan gangguan pencernaan, diare dan pembengkakan di sekujur tubuh, yang bisa menyebabkan kematian.
5. Cacing Ascaris
Panjang cacing ini sekitar 10 inci. Cacing ini bisa menyebabkan radang paru, batang tenggorokan, dan penyumbatan lambung. Cacing ini tidak bisa dibasmi di dalam tubuh kecuali dengan operasi.
6. Cacing Anklestoma
Larva cacing ini masuk ke dalam tubuh dengan cara membakar kulit ketika seseorang berjalan, mandi atau minum air yang tercemar. Cacing ini bisa menyebabkan diare dan pendarahan di tinja, yang bisa menyebabkan terjadinya kekurangan darah, kekurangan protein dalam tubuh, pembengkakan tubuh dan menyebabkan seorang anak mengalami keterlambatan dalam pertumbuhan fisik dan mental, lemah jantung dan akhirnya bisa menyebabkan kematian.
7. Calonorchis Sinensis
Ini sejenis cacing yang menyelinap dan tinggal di dalam air empedu hati babi, yang merupakan sumber utama penularan penyakit pada manusia. Cacing ini terdapat di Cinda dan Asia Timur, karena orang-orang di sana biasa memelihara dan mengonsumsi babi. Virus ini bisa menyebabkan pembengkakan hati manusia dan penyakit kuning yang disertai diare yang parah, dan tubuh menjadi kurus dan berakhir dengan kematian.
8. Cacing Paragonimus
Cacing ini hidup di paru-paru babi. Cacing ini tersebar luas di Cina dan Asia Tenggara tempat dimana babi banyak dipelihara dan dikonsumsi. Cacing ini bisa menyebabkan radang pada paru-paru. Sampai sekarang belum ditemukan cara membunuh cacing di dalam paru-paru. Tapi yang jelas cacing ini tidak terdapat, kecuali di tempat babi hidup. Parasit ini bisa menyebabkan pendarahan paru-paru kronis, dimana penderitanya akan merasa sakit, ludah berwarna coklat seperti karat, karena terjadi pendarahan pada kedua paru.
9. Swine Erysipelas
Parasit ini terdapat di kulit babi. Parasit ini selalu siap pembakaran pada klit manusia yang mencoba mendekati atau berinteraksi dengannya. Parasit ini bisa menyebabkan radang kulit manusia yang memperlihatkan warna merah dan suhu tubuh tinggi.
Sedang kuman-kuman yang ada pada babi dapat menyebabkan berbagai macam penyakit, antara lain:
1. TBC
Penyakit ini mungkin berasal dari babi yang dagingnya dimakan oleh manusia tanpa dimasak dengan baik. Bisa juga terjadi hanya dengan menyentuhnya.
2. Cacar (Small Pox)
Virus ini pindah dari babi ke tubuh manusia dengan cara persentuhan atau memakan daging yang terkena penyakit ini.
3. Gatal-Gatal (Scabies)
Penyakit ini bisa mengenai manusia dengan cara menyentuh kulit babi.
4. Kuman Rusiformas
Yaitu kuman yang bisa melakukan pembusukan pada kedua kaki dan sulit untuk disembuhkan.
5. Salmonella Choler Suis
6. Blantidium Coli
Babi dianggap sebagai hewan utama yang menjadi tempat tumbuh suburnya parasit ini, yang menyebabkan disentri parah pada seseorang.
7. Mikroba Brocellosis
Kotoran babi dianggap sebagai sumber utama munculnya mikroba ini. Penyakit yang ditimbulkan oleh mikroba ini sangat menular yang dapat menimbulkan penyakit di daerah sekitarnya, serta bisa menyebabkan demam malta fever pada manusia.
8. Mikroba Toxoplasma Gondi
Mikroba ini banyak sekali terdapat di tempat-tempat pemeliharaan babi. Penyakit ini menyerang manusia melalui makanan yang tercemar oleh kotoran babi atau menghirup udara atau debu yang mengandung gelembung-gelembung mikroba ini.
Mikroba ini bisa masuk pada getah bening, limpa dan hati. Hal itu menyebabkan demam yang panjang dan menurunnya imunitas tubuh, radang otot dan jantung. Serta bisa menyebabkan gangguan pernafasan, karena mikroba ini juga menyerang paru. Bisa juga menyerang mata berupa peradangan parah pada daerah mata, yang akhirnya bisa menyebabkan kebutaan.
Mikroba ini pun bisa menyerang sel-sel telinga bagian dalam yang bisa menyebabkan ketulian. Terkadang menyerang wanita hamil, yang karenanya janin yang lahir akan meninggal beberapa hari atau beberapa minggu setelah kelahiran. Atau bisa juga, bayi akan lahir dalam keadaan cacat.
Sumber:
Buku Pola Makan Rasulullah oleh Prof. Dr. Abdul Basith Muhammad, dalam :
http://www.halalguide.info/2009/05/15/babi-gudang-parasit-bakteri-berbahaya/
15 Mei 2009
Bakteri Anaerob Serba Guna
Masyarakat urban tidak jarang menjumpai persoalan kloset mampet. Penghuni apartemen menemui saluran pencuci piring tersumbat sisa-sisa makanan. Aroma tak sedap pun sering merebak dari saluran air kotor permukiman.
Jika penyebabnya adalah bahan-bahan organik, bakteri-bakteri pengurai bisa memperbaiki keadaan tersebut. Bakteri-bakteri pengurai dipilih dari jenis bakteri anaerob.
Bakteri anaerob merupakan jenis bakteri yang tidak membutuhkan oksigen untuk bertahan hidup dan berkembang biak. Bakteri anaerob tumbuh tanpa terkontaminasi udara bebas. Salah satunya tumbuh di dalam kotoran hewan yang masih berada di dalam perut.
Ada dua cara untuk memperolehnya. Cara pertama, mengambil bakteri anaerob dari kotoran di dalam perut hewan yang disembelih. Cara kedua, mengambil kotoran dari dalam perut hewan ternak yang dipertahankan tetap hidup. Cara ini menggunakan teknologi medis dengan operasi fistula.
Operasi fistula untuk membuat saluran pengambilan kotoran hewan ternak dari dalam perut tanpa menyebabkan hewan itu mati. Secara ilmiah, terbukti kandungan bakteri anaerob paling banyak berada di rumen, yaitu bagian perut pertama pada hewan pemamah biak. Bagian ini terletak di antara kerongkongan dan perut jala.
"Kotoran yang mengandung bakteri anaerob dapat diambil setiap hari dari hewan yang dioperasi fistula," kata Suryadi, periset pada Pusat Teknologi Limbah Radioaktif Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Minggu (21/3/2010) di Jakarta.
Batan sejak 2006 mengembangkan riset pemanfaatan bakteri anaerob yang diambil dari hewan ternak yang dioperasi fistula. Hewan sapi dan kerbau yang dipilih.
"Operasi fistula sudah dilakukan pada tiga sapi dan seekor kerbau. Pada uji coba pertama mengakibatkan seekor sapi mati," ujar Suryadi.
Hewan yang akan dioperasi fistula harus berusia di atas dua tahun. Setiap pagi dapat diambil kotoran melalui lubang operasi fistula di bagian samping atas perut sapi atau kerbau tersebut.
Pengambilan kotoran dalam bentuk cairan sekitar 120 mililiter, tetapi berisi jutaan bakteri anaerob yang siap dikembangbiakkan.
Selanjutnya, pembiakan bakteri bisa untuk berbagai tujuan, antara lain, untuk menghasilkan bahan peluruh bahan-bahan organik yang menimbulkan sumbatan-sumbatan pada kloset, wastafel, saluran cuci piring, dan sebagainya.
"Batan sendiri mengembangkan untuk campuran pakan ternak yang dikeringkan. Pakan ternak dengan kandungan bakteri anaerob (direkayasa dalam keadaan mati suri) akan membantu proses pencernaan ternak," kata Suryadi.
Bakteri anaerob yang sebelumnya direkayasa supaya mati suri itu akan kembali hidup ketika masuk ke dalam perut hewan bersamaan dengan bahan makanan yang dikonsumsi. Dengan imbuhan bakteri anaerob, proses pencernaan makanan menjadi lebih cepat.
Pembiakan bakteri
Suryadi selama ini juga mendampingi usaha skala kecil dan menengah untuk usaha produktif pembiakan bakteri anaerob. Salah satunya, Koperasi Serba Usaha Agro Makmur di Karanganyar, Jawa Tengah.
Soelaiman Budi Sunarto, selaku pendiri koperasi tersebut, menuturkan, proses membiakkan bakteri bisa dilakukan di tingkat petani dengan bahan baku pedesaan yang melimpah. Koperasinya membuatnya dengan produk yang diberi merek "BioJoos".
"Medianya bisa menggunakan sekam padi yang digiling atau umbi-umbian yang dijadikan tepung," kata Budi.
Menurut Budi, langkah pertama, yaitu mempersiapkan media tepung sekam padi atau umbi-umbian. Kotoran ternak yang sudah diambil lalu diperas. Air perasan itu mengandung biang bakteri. Air itu lalu dicampur dengan tepung sekam atau tepung umbi-umbian. "Namanya proses probiotik," ujarnya.
Proses itu harus seminimal mungkin terkontaminasi udara bebas agar kandungan bakteri aerob (bakteri yang membutuhkan oksigen) tidak tumbuh subur di media tersebut.
Media tepung sekam atau umbi-umbian yang sudah dicampuri biang bakteri kemudian diperam dalam wadah tertutup rapat. Lamanya diperam sampai dua minggu, tetapi setiap dua hari sekali harus diaduk-aduk selama beberapa menit.
Proses selesai setelah dua minggu diperam. Media tepung sekam atau umbi-umbian itu sudah mengandung bakteri anaerob yang mati suri dan siap digunakan.
"Kalau tidak akan digunakan langsung, sebaiknya dikemas ke dalam plastik yang tertutup rapat," kata Budi.
Penyimpanan produk disarankan pada suhu 30 derajat celsius dalam keadaan tertutup
rapat sehingga bakteri anaerob tetap mati suri dan bisa bertahan sampai bertahun-tahun lamanya.
Sumber :
Nawa Tunggal
http://sains.kompas.com/read/2010/03/26/09374949/Bakteri.Anaerob.Serba.Guna
26 Maret 2010
Jika penyebabnya adalah bahan-bahan organik, bakteri-bakteri pengurai bisa memperbaiki keadaan tersebut. Bakteri-bakteri pengurai dipilih dari jenis bakteri anaerob.
Bakteri anaerob merupakan jenis bakteri yang tidak membutuhkan oksigen untuk bertahan hidup dan berkembang biak. Bakteri anaerob tumbuh tanpa terkontaminasi udara bebas. Salah satunya tumbuh di dalam kotoran hewan yang masih berada di dalam perut.
Ada dua cara untuk memperolehnya. Cara pertama, mengambil bakteri anaerob dari kotoran di dalam perut hewan yang disembelih. Cara kedua, mengambil kotoran dari dalam perut hewan ternak yang dipertahankan tetap hidup. Cara ini menggunakan teknologi medis dengan operasi fistula.
Operasi fistula untuk membuat saluran pengambilan kotoran hewan ternak dari dalam perut tanpa menyebabkan hewan itu mati. Secara ilmiah, terbukti kandungan bakteri anaerob paling banyak berada di rumen, yaitu bagian perut pertama pada hewan pemamah biak. Bagian ini terletak di antara kerongkongan dan perut jala.
"Kotoran yang mengandung bakteri anaerob dapat diambil setiap hari dari hewan yang dioperasi fistula," kata Suryadi, periset pada Pusat Teknologi Limbah Radioaktif Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Minggu (21/3/2010) di Jakarta.
Batan sejak 2006 mengembangkan riset pemanfaatan bakteri anaerob yang diambil dari hewan ternak yang dioperasi fistula. Hewan sapi dan kerbau yang dipilih.
"Operasi fistula sudah dilakukan pada tiga sapi dan seekor kerbau. Pada uji coba pertama mengakibatkan seekor sapi mati," ujar Suryadi.
Hewan yang akan dioperasi fistula harus berusia di atas dua tahun. Setiap pagi dapat diambil kotoran melalui lubang operasi fistula di bagian samping atas perut sapi atau kerbau tersebut.
Pengambilan kotoran dalam bentuk cairan sekitar 120 mililiter, tetapi berisi jutaan bakteri anaerob yang siap dikembangbiakkan.
Selanjutnya, pembiakan bakteri bisa untuk berbagai tujuan, antara lain, untuk menghasilkan bahan peluruh bahan-bahan organik yang menimbulkan sumbatan-sumbatan pada kloset, wastafel, saluran cuci piring, dan sebagainya.
"Batan sendiri mengembangkan untuk campuran pakan ternak yang dikeringkan. Pakan ternak dengan kandungan bakteri anaerob (direkayasa dalam keadaan mati suri) akan membantu proses pencernaan ternak," kata Suryadi.
Bakteri anaerob yang sebelumnya direkayasa supaya mati suri itu akan kembali hidup ketika masuk ke dalam perut hewan bersamaan dengan bahan makanan yang dikonsumsi. Dengan imbuhan bakteri anaerob, proses pencernaan makanan menjadi lebih cepat.
Pembiakan bakteri
Suryadi selama ini juga mendampingi usaha skala kecil dan menengah untuk usaha produktif pembiakan bakteri anaerob. Salah satunya, Koperasi Serba Usaha Agro Makmur di Karanganyar, Jawa Tengah.
Soelaiman Budi Sunarto, selaku pendiri koperasi tersebut, menuturkan, proses membiakkan bakteri bisa dilakukan di tingkat petani dengan bahan baku pedesaan yang melimpah. Koperasinya membuatnya dengan produk yang diberi merek "BioJoos".
"Medianya bisa menggunakan sekam padi yang digiling atau umbi-umbian yang dijadikan tepung," kata Budi.
Menurut Budi, langkah pertama, yaitu mempersiapkan media tepung sekam padi atau umbi-umbian. Kotoran ternak yang sudah diambil lalu diperas. Air perasan itu mengandung biang bakteri. Air itu lalu dicampur dengan tepung sekam atau tepung umbi-umbian. "Namanya proses probiotik," ujarnya.
Proses itu harus seminimal mungkin terkontaminasi udara bebas agar kandungan bakteri aerob (bakteri yang membutuhkan oksigen) tidak tumbuh subur di media tersebut.
Media tepung sekam atau umbi-umbian yang sudah dicampuri biang bakteri kemudian diperam dalam wadah tertutup rapat. Lamanya diperam sampai dua minggu, tetapi setiap dua hari sekali harus diaduk-aduk selama beberapa menit.
Proses selesai setelah dua minggu diperam. Media tepung sekam atau umbi-umbian itu sudah mengandung bakteri anaerob yang mati suri dan siap digunakan.
"Kalau tidak akan digunakan langsung, sebaiknya dikemas ke dalam plastik yang tertutup rapat," kata Budi.
Penyimpanan produk disarankan pada suhu 30 derajat celsius dalam keadaan tertutup
rapat sehingga bakteri anaerob tetap mati suri dan bisa bertahan sampai bertahun-tahun lamanya.
Sumber :
Nawa Tunggal
http://sains.kompas.com/read/2010/03/26/09374949/Bakteri.Anaerob.Serba.Guna
26 Maret 2010
Terpecahkan, Kode Genetik Bakteri Penyebab Jerawat
Kode genetik Propionibacterium acnes, bakteri penyebab jerawat terpecahkan. Ini membuka harapan baru untuk pengobatan jerawat yang lebih tepat. Siapa tak pernah memiliki jerawat? Bersyukurlah. Sebab, banyak orang merasa tidak nyaman, merasa terganggu, dan bahkan sampai minder ketika wajah mereka berhiaskan bisul-bisul kecil.
Jerawat merupakan kelainan kulit yang dikenal dengan acne vulgaris. Biasanya jerawat menyerang mereka yang memasuki masa puber, atau remaja. Pada masa itu terjadi perubahan hormonal yang merangsang kelenjar minyak pada kulit. Kelenjar tadi akan membesar dan menghasilkan minyak yang lebih banyak. Minyak ini dialirkan ke folikel rambut, yaitu bangunan yang membentuk kantung mengelilingi akar rambut, lalu dikeluarkan ke permukaan kulit lewat pori-pori kulit.
Pada kondisi tertentu pori-pori kulit ini tertutup sehingga minyak menumpuk di kantung itu. Sumbatan ini bisa terinfeksi kuman yang hidup di sekitar folikel sehingga menimbulkan peradangan, bengkak dan pernanahan. Sebanyak 80 persen permasalahan kulit ini menimpa mereka di usia dewasa muda. Meski begitu, mereka yang berusia lanjut pun tak terhindar dari masalahan ini.
Tak hanya karena persoalan hormonal, masalah jerawat terkait dengan gangguan di sekitar folikel rambut (keratinisasi), dan juga bakteri. Menurut dr I Ketut Sukarata SpKK dari bagian penyakit kulit dan kelamin FKUI/RSUPN-Cipto Mangunkusumo, penyebab jerawat pada tiap orang berbeda-beda. "Hanya saja, yang jelas memang dari tiga faktor penyebab tadi," ujarnya ketika dihubungi di Jakarta, akhir pekan lalu. Selain itu, lanjut Sukarata, ada faktor pendukung lainnya yang memicu munculnya jerawat. Faktor lainnya adalah stres, makanan, dan pola hidup.
Jerawat, lanjutnya, biasa terjadi pada bagian-bagian kulit yang mengandung kelebihan minyak. Bagian-bagian tubuh yang subur ditumbuhi jerawat antara lain permukaan kulit di wajah, leher, lengan bagian atas, punggung atas, kulit kepala, dan dada atas. Menurut pakar kulit Dr Titi Moertolo, tingkat keparahan jerawat beragam. Itu tergantung pada kondisi kulit penderita dan faktor pendukung lainnya. Skala keparahannya mulai dari ringan, hingga ke parah, dari jaringan epidermis hingga ke dermis.
"Soal jerawat, memang banyak juga dari risiko keturunan. Ini berkaitan erat dengan produksi minyak dari kelenjar minyak di kulitnya. Jadi, bila orang tuanya berjerawat, anak-anaknya pun pada usia puber juga kena," sambungnya.
Gen bakteri
Para peneliti dari Universitas Georg-August di Gottingen, Jerman, seperti dilaporkan bbc.co.uk, menemukan gen bakteri yang menyerang dan merusak komponen jaringan kulit manusia. Penemuan gen bakteri ini bisa membantu menjawab berbagai pertanyaan seputar penyebab jerawat.
Penelitian tersebut berhasil memecah kode genetik dari bakteri yang terlibat dalam jerawat. Ini membuka pintu gerbang baru untuk pengobatan jerawat dengan lebih tepat. Memang ada banyak faktor penyebab jerawat dan pemicu peradangan pada kulit. Maka, mengetahui bakteri penyebabnya justru memberikan nilai tambah dalam penemuan obatnya.
"Kami berusaha melihat seberapa banyak gen yang terlibat dalam degradasi jaringan kulit," papar pimpinan tim peneliti tersebut, Holger Bruggeman di Jerman, beberapa waktu lalu. Bakteri yang menjadi biang keladi dari jerawat dikenal dengan nama Propionibacterium acnes (P-acnes). Bakteri ini ditemukan pada permukaan kulit orang dewasa yang berkaitan erat dalam masalah jerawat ini. Walaupun ditemukan di permukaan kulit, bakteri ini hidup di dalam kelenjar dan sekresi minyak hingga di dalam folikel rambut.
Tim peneliti Jerman itu mengidentifikasi 2.333 unit gen. Sejumlah gen menjelaskan cara bakteri P-acnes memicu munculnya jerawat. Mereka juga menemukan jejak-jejak enzim dari bakteri itu yang menghancurkan kulit. Bakteri ini, kata Bruggeman, meninggalkan produk-produk enzimnya di kulit sehingga menyebabkan degradasi di jaringan tersebut. Menurutnya, penelitian itu menjadi awal upaya menemukan terapi baru untuk mengatasi sistem enzim yang diproduksi bakteri P-acnes.
Ketika bakteri bergerak menurunkan fungsi kulit manusia, maka peradangan mengintai. "Mungkin itu ada kaitannya dengan penurunan sistem kekebalan tubuh. Di sinilah bedanya bahwa sistem kekebalan tubuh tiap orang berlainan," tutur Bruggeman. Pimpinan Acne Support Group Alison Dudley mengatakan, penemuan ini menjadi langkah maju bagi generasi mendatang. "Kita tahu, jerawat bisa menggiring orang berpikir untuk bunuh diri dan depresi."
Selama ini, menurut Ketut, pengobatan yang dilakukan berlangsung selama beberapa waktu dan tak cukup hanya satu jenis. "Biasanya pengobatan jerawat dilakukan lewat obat topikal (hanya di permukaan kulit -- Red). Tapi, perlu juga dilakukan dengan obat oral Misalnya, antibiotik, vitamin A, anti hormonal bila memang masalahnya dari hormonal, dan lain-lain."
Ketut menambahkan, dalam pengobatan tersebut pasien tak sekadar mengonsumsi berbagai macam obat-obatan, tapi juga harus patuh pada pengaturan makanannya. "Mereka harus memperhatikan makanan hariannya. Jadi, mereka harus diet dengan rendah lemak, kurangi makanan yang merangsang, dan yang paling penting adalah terapi keratinisasi."
Titi juga mengatakan, pola hidup sehat pun perlu dilakukan oleh mereka yang mengalami jerawat yang cukup parah. Selain makanan, kebiasaan menjaga kebersihan kulit perlu dilakukan. Tidur yang cukup pun menjadi salah satu kunci pencegahan
timbulnya jerawat.
Sumber :
Republika Online - Selasa, 03 Agustus 2004, dalam :
http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1091589583,75550,
Jerawat merupakan kelainan kulit yang dikenal dengan acne vulgaris. Biasanya jerawat menyerang mereka yang memasuki masa puber, atau remaja. Pada masa itu terjadi perubahan hormonal yang merangsang kelenjar minyak pada kulit. Kelenjar tadi akan membesar dan menghasilkan minyak yang lebih banyak. Minyak ini dialirkan ke folikel rambut, yaitu bangunan yang membentuk kantung mengelilingi akar rambut, lalu dikeluarkan ke permukaan kulit lewat pori-pori kulit.
Pada kondisi tertentu pori-pori kulit ini tertutup sehingga minyak menumpuk di kantung itu. Sumbatan ini bisa terinfeksi kuman yang hidup di sekitar folikel sehingga menimbulkan peradangan, bengkak dan pernanahan. Sebanyak 80 persen permasalahan kulit ini menimpa mereka di usia dewasa muda. Meski begitu, mereka yang berusia lanjut pun tak terhindar dari masalahan ini.
Tak hanya karena persoalan hormonal, masalah jerawat terkait dengan gangguan di sekitar folikel rambut (keratinisasi), dan juga bakteri. Menurut dr I Ketut Sukarata SpKK dari bagian penyakit kulit dan kelamin FKUI/RSUPN-Cipto Mangunkusumo, penyebab jerawat pada tiap orang berbeda-beda. "Hanya saja, yang jelas memang dari tiga faktor penyebab tadi," ujarnya ketika dihubungi di Jakarta, akhir pekan lalu. Selain itu, lanjut Sukarata, ada faktor pendukung lainnya yang memicu munculnya jerawat. Faktor lainnya adalah stres, makanan, dan pola hidup.
Jerawat, lanjutnya, biasa terjadi pada bagian-bagian kulit yang mengandung kelebihan minyak. Bagian-bagian tubuh yang subur ditumbuhi jerawat antara lain permukaan kulit di wajah, leher, lengan bagian atas, punggung atas, kulit kepala, dan dada atas. Menurut pakar kulit Dr Titi Moertolo, tingkat keparahan jerawat beragam. Itu tergantung pada kondisi kulit penderita dan faktor pendukung lainnya. Skala keparahannya mulai dari ringan, hingga ke parah, dari jaringan epidermis hingga ke dermis.
"Soal jerawat, memang banyak juga dari risiko keturunan. Ini berkaitan erat dengan produksi minyak dari kelenjar minyak di kulitnya. Jadi, bila orang tuanya berjerawat, anak-anaknya pun pada usia puber juga kena," sambungnya.
Gen bakteri
Para peneliti dari Universitas Georg-August di Gottingen, Jerman, seperti dilaporkan bbc.co.uk, menemukan gen bakteri yang menyerang dan merusak komponen jaringan kulit manusia. Penemuan gen bakteri ini bisa membantu menjawab berbagai pertanyaan seputar penyebab jerawat.
Penelitian tersebut berhasil memecah kode genetik dari bakteri yang terlibat dalam jerawat. Ini membuka pintu gerbang baru untuk pengobatan jerawat dengan lebih tepat. Memang ada banyak faktor penyebab jerawat dan pemicu peradangan pada kulit. Maka, mengetahui bakteri penyebabnya justru memberikan nilai tambah dalam penemuan obatnya.
"Kami berusaha melihat seberapa banyak gen yang terlibat dalam degradasi jaringan kulit," papar pimpinan tim peneliti tersebut, Holger Bruggeman di Jerman, beberapa waktu lalu. Bakteri yang menjadi biang keladi dari jerawat dikenal dengan nama Propionibacterium acnes (P-acnes). Bakteri ini ditemukan pada permukaan kulit orang dewasa yang berkaitan erat dalam masalah jerawat ini. Walaupun ditemukan di permukaan kulit, bakteri ini hidup di dalam kelenjar dan sekresi minyak hingga di dalam folikel rambut.
Tim peneliti Jerman itu mengidentifikasi 2.333 unit gen. Sejumlah gen menjelaskan cara bakteri P-acnes memicu munculnya jerawat. Mereka juga menemukan jejak-jejak enzim dari bakteri itu yang menghancurkan kulit. Bakteri ini, kata Bruggeman, meninggalkan produk-produk enzimnya di kulit sehingga menyebabkan degradasi di jaringan tersebut. Menurutnya, penelitian itu menjadi awal upaya menemukan terapi baru untuk mengatasi sistem enzim yang diproduksi bakteri P-acnes.
Ketika bakteri bergerak menurunkan fungsi kulit manusia, maka peradangan mengintai. "Mungkin itu ada kaitannya dengan penurunan sistem kekebalan tubuh. Di sinilah bedanya bahwa sistem kekebalan tubuh tiap orang berlainan," tutur Bruggeman. Pimpinan Acne Support Group Alison Dudley mengatakan, penemuan ini menjadi langkah maju bagi generasi mendatang. "Kita tahu, jerawat bisa menggiring orang berpikir untuk bunuh diri dan depresi."
Selama ini, menurut Ketut, pengobatan yang dilakukan berlangsung selama beberapa waktu dan tak cukup hanya satu jenis. "Biasanya pengobatan jerawat dilakukan lewat obat topikal (hanya di permukaan kulit -- Red). Tapi, perlu juga dilakukan dengan obat oral Misalnya, antibiotik, vitamin A, anti hormonal bila memang masalahnya dari hormonal, dan lain-lain."
Ketut menambahkan, dalam pengobatan tersebut pasien tak sekadar mengonsumsi berbagai macam obat-obatan, tapi juga harus patuh pada pengaturan makanannya. "Mereka harus memperhatikan makanan hariannya. Jadi, mereka harus diet dengan rendah lemak, kurangi makanan yang merangsang, dan yang paling penting adalah terapi keratinisasi."
Titi juga mengatakan, pola hidup sehat pun perlu dilakukan oleh mereka yang mengalami jerawat yang cukup parah. Selain makanan, kebiasaan menjaga kebersihan kulit perlu dilakukan. Tidur yang cukup pun menjadi salah satu kunci pencegahan
timbulnya jerawat.
Sumber :
Republika Online - Selasa, 03 Agustus 2004, dalam :
http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1091589583,75550,
Bakteri, Pengolah Limbah Minyak Bumi yang Ramah Lingkungan
Minyak bumi merupakan sumber energi utama yang digunakan baik pada rumah tangga, industri maupun transportasi. Hal ini menyebabkan meningkatnya kegiatan eksplorasi, eksploitasi, pengolahan dan transportasi produksi minyak bumi untuk memenuhi kebutuhan manusia sehingga semakin besar pula kecenderungannya untuk mencemari lingkungan, terutama di wilayah pesisir. Pencemaran tersebut berasal dari buangan limbah kilang minyak, hasil sampingan dari proses produksi, distribusi maupun transportasi.
Limbah yang dihasilkan dari kilang minyak berupa limbah cair dan limbah padat. Produksi kilang minyak bumi sebanyak 1000 barrel per hari akan menghasilkan limbah padat (lumpur minyak) lebih dari 2.6 barrel sedangkan di Indonesia, produksi kilang menghasilkan minyak bumi sekitar 1,2 juta barrel per hari yang berarti menghasilkan limbah padat sebanyak 3120 barrel per hari dan dalam waktu satu tahun menghasilkan limbah sebanyak 1.3 juta barrel, yang 285.000 barrel diantaranya adalah limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).
Limbah lumpur minyak bumi berpengaruh pada ekosistem pesisir baik terumbu karang, mangrove maupun biota air, baik yang bersifat lethal (mematikan) maupun sublethal (menghambat pertumbuhan, reproduksi dan proses fisiologis lainnya). Hal ini karena adanya senyawa hidrokarbon yang terkandung di dalam minyak bumi, yang memiliki komponen senyawa kompleks, termasuk didalamnya Benzena, Toluena, Ethilbenzena dan isomer Xylena (BTEX), merupakan senyawa aromatik dalam jumlah kecil dalam hidrokarbon, namun pengaruhnya sangat besar terhadap pencemaran, perairan. Kasus yang terjadi, minyak di Guilt of Eilat (Red Sea) telah merusak gonad Stylophora pistillata, menurunkan survival rate koloni-koloni karang dan menurunkan jumlah produksi planula serta tumpahan minyak diesel dan minyak "Bunker C" Witwater di daerah Panama 1968 menyebabkan benih-benih Avicennia dan Rhizophora sp. serta berbagai invertebrata, penyu, burung dan alga yang hidup di daerah intertidal mangrove mati, serta banyak kasus lain seperti tumpahan minyak bahan bakar pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU) yang bersumber dari kapal tongkang pengangkut minyak (Kompas, 21 Februari 2004). Semua itu berpengaruh buruk bagi lingkungan perairan khususnya biota yang ada didalamnya, sehingga menyebabkan turunnya produktivitas sumberdaya perikanan. Oleh karena itu, upaya penanggulangannya mutlak harus dilakukan.
Pengolahan limbah minyak bumi dilakukan secara fisika, kimia dan biologi. Pengolahan secara fisika dilakukan untuk pengolahan awal yaitu dengan cara melokalisasi tumpahan minyak menggunakan pelampung pembatas (oil booms), yang kemudian akan ditransfer dengan perangkat pemompa (oil skimmers) ke sebuah fasilitas penerima "reservoar" baik dalam bentuk tangki ataupun balon dan dilanjutkan dengan pengolahan secara kimia, namun biayanya mahal dan dapat menimbulkan pencemar baru. Pengolahan limbah secara biologi merupakan alternatif yang efektif dari segi biaya dan aman bagi lingkungan. Pengolahan dengan metode biologis disebut juga bioremediasi, yaitu biotek-nologi yang memanfaatkan makhluk hidup khususnya mikroorganisme untuk menurunkan konsentrasi atau daya racun bahan pencemar (Kepmen LH No. 128, 2003).
Mikroorganisme, terutama bakteri yang mampu mendegradasi senyawa yang terdapat di dalam hidrokarbon minyak bumi disebut bakteri hidrokarbonoklastik. Bakteri ini mampu men-degradasi senyawa hidrokarbon dengan memanfaatkan senyawa tersebut sebagai sumber karbon dan energi yang diperlukan bagi pertumbuhannya. Mikroorga-nisme ini mampu menguraikan komponen minyak bumi karena kemampuannya mengoksidasi hidrokarbon dan menjadikan hidrokarbon sebagai donor elektronnya. Mikroorganisme ini berpartisipasi dalam pembersih-an tumpahan minyak dengan mengoksidasi minyak bumi menjadi gas karbon dioksida (CO2), bakteri pendegradasi minyak bumi akan menghasilkan bioproduk seperti asam lemak, gas, surfaktan, dan biopolimer yang dapat meningkatkan porositas dan permeabilitas batuan reservoir formasi klastik dan karbonat apabila bakteri ini menguraikan minyak bumi.
Berikut adalah reaksi degradasi senyawa hidrokarbon fraksi aromatik oleh bakteri yang diawali dengan pembentukan Pro-to-ca-techua-te atau catechol atau senyawa yang secara struktur berhubung-an dengan senyawa ini. Kedua senyawa ini selanjutnya didegradasi menjadi senyawa yang dapat masuk ke dalam siklus Krebs (siklus asam sitrat), yaitu suksinat, asetil KoA, dan piruvat.
Bakteri hidrokarbonoklastik diantaranya adalah Pseudomonas, Arthrobacter, Alcaligenes, Brevibacterium, Brevibacillus, dan Bacillus. Bakteri-bakteri tersebut banyak tersebar di alam, termasuk dalam perairan atau sedimen yang tercemar oleh minyak bumi atau hidrokarbon. Kita hanya perlu mengisolasi bakteri hidrokarbonoklastik tersebut dari alam dan mengkulturnya, selanjutnya kita bisa menggunakannya sebagai peng-olah limbah minyak bumi yang efektif dan efisien, serta ramah lingkungan.
Pertamina yang merupakan perusahaan minyak bumi terbesar di Indonesia sudah saatnya mengambil langkah efektif tersebut. Hal itu bisa diawali dengan adanya kerjasama penelitian mengenai bioremediasi limbah lumpur minyak bumi di Pertamina dengan pihak akademik yang terkait untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya guna aplikasi di lapangan. Selanjutnya, perekrutan tenaga-tenaga ahli yang berkompeten dalam bidang bioremediasi juga sangat penting untuk keberlanjutan pengembangan biotek-nologi tersebut, disamping pengadaan alat-alat yang diperlukan untuk mendukung kegiatan pengelolaan limbah secara biologis.
Apabila hal ini bisa dilakukan, sebenarnya Pertamina telah menyelamatkan ribuan spesies yang ada di perairan khususnya ekosistem intertidal mangrove dan ekosistem terumbu karang. Ini juga merupakan tindakan nyata dalam mempertahankan kekayaan sumberdaya alam kita. Ke depan, semoga pertamina dapat menjadi teladan bagi masyarakat Indonesia bukan hanya karena produksi yang dihasilkan, namun juga adanya pengelolaan limbah yang ramah lingkungan, sebagai bentuk Pertamina cinta lingkungan. Ayo, dukung bioremediasi !
Dhama Peni Lasari,
Mahasiswa Fakultas Sains & Teknik
Univ. Soedirman
Sumber:
http://www.esdm.go.id/news-archives/56-artikel/3507-bakteri-pengolah-limbah-minyak-bumi-yang-ramah-lingkungan.html
27 Juni 2010
Limbah yang dihasilkan dari kilang minyak berupa limbah cair dan limbah padat. Produksi kilang minyak bumi sebanyak 1000 barrel per hari akan menghasilkan limbah padat (lumpur minyak) lebih dari 2.6 barrel sedangkan di Indonesia, produksi kilang menghasilkan minyak bumi sekitar 1,2 juta barrel per hari yang berarti menghasilkan limbah padat sebanyak 3120 barrel per hari dan dalam waktu satu tahun menghasilkan limbah sebanyak 1.3 juta barrel, yang 285.000 barrel diantaranya adalah limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).
Limbah lumpur minyak bumi berpengaruh pada ekosistem pesisir baik terumbu karang, mangrove maupun biota air, baik yang bersifat lethal (mematikan) maupun sublethal (menghambat pertumbuhan, reproduksi dan proses fisiologis lainnya). Hal ini karena adanya senyawa hidrokarbon yang terkandung di dalam minyak bumi, yang memiliki komponen senyawa kompleks, termasuk didalamnya Benzena, Toluena, Ethilbenzena dan isomer Xylena (BTEX), merupakan senyawa aromatik dalam jumlah kecil dalam hidrokarbon, namun pengaruhnya sangat besar terhadap pencemaran, perairan. Kasus yang terjadi, minyak di Guilt of Eilat (Red Sea) telah merusak gonad Stylophora pistillata, menurunkan survival rate koloni-koloni karang dan menurunkan jumlah produksi planula serta tumpahan minyak diesel dan minyak "Bunker C" Witwater di daerah Panama 1968 menyebabkan benih-benih Avicennia dan Rhizophora sp. serta berbagai invertebrata, penyu, burung dan alga yang hidup di daerah intertidal mangrove mati, serta banyak kasus lain seperti tumpahan minyak bahan bakar pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU) yang bersumber dari kapal tongkang pengangkut minyak (Kompas, 21 Februari 2004). Semua itu berpengaruh buruk bagi lingkungan perairan khususnya biota yang ada didalamnya, sehingga menyebabkan turunnya produktivitas sumberdaya perikanan. Oleh karena itu, upaya penanggulangannya mutlak harus dilakukan.
Pengolahan limbah minyak bumi dilakukan secara fisika, kimia dan biologi. Pengolahan secara fisika dilakukan untuk pengolahan awal yaitu dengan cara melokalisasi tumpahan minyak menggunakan pelampung pembatas (oil booms), yang kemudian akan ditransfer dengan perangkat pemompa (oil skimmers) ke sebuah fasilitas penerima "reservoar" baik dalam bentuk tangki ataupun balon dan dilanjutkan dengan pengolahan secara kimia, namun biayanya mahal dan dapat menimbulkan pencemar baru. Pengolahan limbah secara biologi merupakan alternatif yang efektif dari segi biaya dan aman bagi lingkungan. Pengolahan dengan metode biologis disebut juga bioremediasi, yaitu biotek-nologi yang memanfaatkan makhluk hidup khususnya mikroorganisme untuk menurunkan konsentrasi atau daya racun bahan pencemar (Kepmen LH No. 128, 2003).
Mikroorganisme, terutama bakteri yang mampu mendegradasi senyawa yang terdapat di dalam hidrokarbon minyak bumi disebut bakteri hidrokarbonoklastik. Bakteri ini mampu men-degradasi senyawa hidrokarbon dengan memanfaatkan senyawa tersebut sebagai sumber karbon dan energi yang diperlukan bagi pertumbuhannya. Mikroorga-nisme ini mampu menguraikan komponen minyak bumi karena kemampuannya mengoksidasi hidrokarbon dan menjadikan hidrokarbon sebagai donor elektronnya. Mikroorganisme ini berpartisipasi dalam pembersih-an tumpahan minyak dengan mengoksidasi minyak bumi menjadi gas karbon dioksida (CO2), bakteri pendegradasi minyak bumi akan menghasilkan bioproduk seperti asam lemak, gas, surfaktan, dan biopolimer yang dapat meningkatkan porositas dan permeabilitas batuan reservoir formasi klastik dan karbonat apabila bakteri ini menguraikan minyak bumi.
Berikut adalah reaksi degradasi senyawa hidrokarbon fraksi aromatik oleh bakteri yang diawali dengan pembentukan Pro-to-ca-techua-te atau catechol atau senyawa yang secara struktur berhubung-an dengan senyawa ini. Kedua senyawa ini selanjutnya didegradasi menjadi senyawa yang dapat masuk ke dalam siklus Krebs (siklus asam sitrat), yaitu suksinat, asetil KoA, dan piruvat.
Bakteri hidrokarbonoklastik diantaranya adalah Pseudomonas, Arthrobacter, Alcaligenes, Brevibacterium, Brevibacillus, dan Bacillus. Bakteri-bakteri tersebut banyak tersebar di alam, termasuk dalam perairan atau sedimen yang tercemar oleh minyak bumi atau hidrokarbon. Kita hanya perlu mengisolasi bakteri hidrokarbonoklastik tersebut dari alam dan mengkulturnya, selanjutnya kita bisa menggunakannya sebagai peng-olah limbah minyak bumi yang efektif dan efisien, serta ramah lingkungan.
Pertamina yang merupakan perusahaan minyak bumi terbesar di Indonesia sudah saatnya mengambil langkah efektif tersebut. Hal itu bisa diawali dengan adanya kerjasama penelitian mengenai bioremediasi limbah lumpur minyak bumi di Pertamina dengan pihak akademik yang terkait untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya guna aplikasi di lapangan. Selanjutnya, perekrutan tenaga-tenaga ahli yang berkompeten dalam bidang bioremediasi juga sangat penting untuk keberlanjutan pengembangan biotek-nologi tersebut, disamping pengadaan alat-alat yang diperlukan untuk mendukung kegiatan pengelolaan limbah secara biologis.
Apabila hal ini bisa dilakukan, sebenarnya Pertamina telah menyelamatkan ribuan spesies yang ada di perairan khususnya ekosistem intertidal mangrove dan ekosistem terumbu karang. Ini juga merupakan tindakan nyata dalam mempertahankan kekayaan sumberdaya alam kita. Ke depan, semoga pertamina dapat menjadi teladan bagi masyarakat Indonesia bukan hanya karena produksi yang dihasilkan, namun juga adanya pengelolaan limbah yang ramah lingkungan, sebagai bentuk Pertamina cinta lingkungan. Ayo, dukung bioremediasi !
Dhama Peni Lasari,
Mahasiswa Fakultas Sains & Teknik
Univ. Soedirman
Sumber:
http://www.esdm.go.id/news-archives/56-artikel/3507-bakteri-pengolah-limbah-minyak-bumi-yang-ramah-lingkungan.html
27 Juni 2010
Hewan “Pelindung” Bakteri Jahat
Berdasarkan penelitian terbaru diketahui ikan hiu menjadi inkubator bagi sejumlah bakteri dari strain yang resisten terhadap obat-obat antibiotik.
Hal itu menimbulkan kekhawatiran hiu bisa menjadi media penularan penyakit-penyakit yang sulit disembuhkan. Anda mungkin masih ingat dengan beberapa film Hollywood yang menceritakan tentang ikan hiu dan keganasannya.
Di film-fi lm tersebut, salah satunya Jaws garapan sutradara Steven Spielberg, hiu acap kali digambarkan sebagai hewan air yang buas dan siap memangsa korban-korbannya, termasuk manusia.
Penggambaran seperti itu memang tidak salah, namun sebenarnya keganasan hiu tidak saja terletak pada gigitan dari deretan giginya yang tajam, melainkan pula pada bagian tubuhnya.
Berdasarkan studi terbaru tentang hiu diketahui bahwa tubuh ikan pemangsa itu menjadi inkubator atau host sejumlah bakteri dari strain yang cukup kuat alias resisten terhadap obat-obat antibiotik.
Lazim diketahui bahwa bakteri ialah suatu organisme berukuran superkecil atau mikroskopik yang jumlahnya paling banyak dan tersebar luas dibandingkan dengan organisme lainnya di Bumi.
Umumnya bakteri bersel tunggal (uniseluler), prokariot, serta tidak mengandung klorofil. Di Bumi, jumlah bakteri yang berasal dari bahasa Latin, bacterium, itu mencapai ratusan ribu. Temp
at hidupnya pun tersebar di berbagai area, seperti tanah, air, lingkungan ramah maupun ekstrem, serta di tubuh makhluk hidup. Proses pertumbuhan dan perkembangan bakteri dipenga ruhi oleh beberapa faktor, antara lain derajat keasaman (pH), suhu udara, temperatur, kandungan garam, sumber nutrisi, zat kimia, dan zat sisa metabolisme.
Ketika mengetahui adanya bakteri yang resisten terhadap obatobat antibiotik di dalam organ tubuh hiu, para ilmuwan pun merasa khawatir.
Pasalnya, bakteri-bakteri tersebut bisa menular pada manusia suatu hari nanti, salah satunya melalui pengonsumsian hiu.
Seorang ahli ekologi dari Universitas Florida di Gainesville, Amerika Serikat (AS), Jason Blackburn menyatakan bukanlah perkara mudah melawan bakteri-bakteri yang resisten terhadap antibiotik tersebut.
“Kami benar-benar terkejut ketika menemukan sejumlah bakteri yang resisten terhadap berbagai obat di tubuh hiu. Karenanya suatu hal yang sulit diperkirakan untuk menemukan obat-obat yang mampu melawan serangan bakteri tersebut,” papar Blackburn seperti dikutip dari Live- Science.com.
Para ilmuwan menemukan hiuhiu yang menjadi inkubator dari sejumlah bakteri jahat itu hidup di beberapa perairan, di antaranya Florida Keys dan Belize.
Belize merupakan sebuah negara kecil di pesisir timur Amerika Tengah yang berbatasan langsung dengan Meksiko di sebelah barat laut dan Guatemala di bagian barat dan selatan. Hiu-hiu di kedua perairan itu mengandung bakteri yang resisten terhadap beberapa obat antibiotik dalam jumlah besar. Sebaliknya di lepas Pantai Masschusetts dan Louisiana, AS, jumlah bakteri yang bersarang dalam tubuh hiu terbilang sangat sedikit.
Bakteri-bakteri itu diketahui resisten terhadap beberapa obat antibiotik, seperti amikacin, ceftazidime, chloramphenicol, ciprofloxacin, doxycycline, penicillin, piperacillin, sulfamethoxazole, dan ticarcillin.
Sayangnya, penelitian tentang hiu yang menjadi inkubator sejumlah bakteri yang resisten terhadap antibiotik tersebut tidak dilengkapi data pembanding populasi hiu liar seperti hiu perawat dan hiu banteng.
Meski demikian, dari beberapa sampel hiu yang diteliti, para ilmuwan menemukan sejumlah bakteri yang hidup di tubuh hiu-hiu itu resisten terhadap 13 jenis obat antibiotik.
Tidak Sakit Hal yang belum diketahui dengan pasti, bagaimana bakteribakteri itu bisa menyusup ke dalam tubuh hiu.
“Kami akan terus mencoba mencari jawaban akan hal tersebut dan hiu merupakan spesies yang menjadi target penelitian kami karena kedudukannya yang cukup penting sebagai predator utama di dalam rantai makanan di laut,” ujar Blackburn yang memublikasikan penelitiannya di jurnal Zoo and Wildlife Medicine.
Lebih jauh, Blackburn menyatakan dia serta para peneliti lainnya berencana untuk mulai melacak sumber bakteri yang resisten terhadap antiobiotik itu di berbagai lokasi.
Tidak hanya itu, mereka juga mencoba mencari jawaban mengapa keberadaan bakteri-bakteri tersebut di dalam tubuh hiu tidak menyebabkan ikan pemangsa tersebut sakit.
Berdasarkan penelitian terhadap hiu di perairan Florida Keys yang dijadikan sampel diketahui bahwa ikan itu memiliki daya resistensi yang tinggi terhadap beberapa jenis obat antibiotik.
Meski demikian, para pakar menyimpulkan bahwa lokasi perairan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tingkat resistensi hiu.
Jadi, belum tentu hiu yang hidup di luar perairan Florida Keys memiliki tingkat resistensi yang sama terhadap bakteri dengan hiu di perairan Florida Keys. Blackburn dan beberapa koleganya memperkirakan daya resistensi tersebut bisa berasal dari lingkungan sekitar.
Beberapa waktu lalu, para ilmuwan itu mencatat adanya masalah dalam pembukaan tempat pembuangan kotoran (septic tank) di Dry Tortugas, sebuah pulau di Florida Keys.
Kotoran-kotoran manusia yang berasal dari septic tank itu mungkin saja terlarut ke dalam perairan dan dikonsumsi hiu. Tanpa disadari sebenarnya secara langsung hiu mendapatkan antibiotik yang berasal dari kotoran tersebut.
Pada penelitian berikutnya, kata Blackburn, para ilmuwan akan mengamati lebih detail kaitan antara umur hiu dengan daya resistensi terhadap antibiotik. Rencananya mereka akan memilih hiu perawat yang memiliki gerakan lambat sebagai objek penelitian yang ideal.
“Gerakannya yang lambat memungkinkan para peneliti untuk mengambil sampel dengan berulang kali,” tambah Blackburn.
Berbeda halnya dengan hiu banteng dan hiu pemintal yang merupakan perenang cepat. Kedua jenis hiu itu memang dikenal sangat sulit untuk ditangkap dan dijadikan sebagai objek penelitian.
Meski demikian, para ilmuwan berharap dapat mengambil lebih banyak lagi sampel penelitian dari beragam spesies hiu. Selain itu, mereka juga berencana memperluas
daerah pene litian, termasuk ke area-area perairan yang terpencil.
dev/L-4
Sumber:
http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=56069
30 Juni 2010
Hal itu menimbulkan kekhawatiran hiu bisa menjadi media penularan penyakit-penyakit yang sulit disembuhkan. Anda mungkin masih ingat dengan beberapa film Hollywood yang menceritakan tentang ikan hiu dan keganasannya.
Di film-fi lm tersebut, salah satunya Jaws garapan sutradara Steven Spielberg, hiu acap kali digambarkan sebagai hewan air yang buas dan siap memangsa korban-korbannya, termasuk manusia.
Penggambaran seperti itu memang tidak salah, namun sebenarnya keganasan hiu tidak saja terletak pada gigitan dari deretan giginya yang tajam, melainkan pula pada bagian tubuhnya.
Berdasarkan studi terbaru tentang hiu diketahui bahwa tubuh ikan pemangsa itu menjadi inkubator atau host sejumlah bakteri dari strain yang cukup kuat alias resisten terhadap obat-obat antibiotik.
Lazim diketahui bahwa bakteri ialah suatu organisme berukuran superkecil atau mikroskopik yang jumlahnya paling banyak dan tersebar luas dibandingkan dengan organisme lainnya di Bumi.
Umumnya bakteri bersel tunggal (uniseluler), prokariot, serta tidak mengandung klorofil. Di Bumi, jumlah bakteri yang berasal dari bahasa Latin, bacterium, itu mencapai ratusan ribu. Temp
at hidupnya pun tersebar di berbagai area, seperti tanah, air, lingkungan ramah maupun ekstrem, serta di tubuh makhluk hidup. Proses pertumbuhan dan perkembangan bakteri dipenga ruhi oleh beberapa faktor, antara lain derajat keasaman (pH), suhu udara, temperatur, kandungan garam, sumber nutrisi, zat kimia, dan zat sisa metabolisme.
Ketika mengetahui adanya bakteri yang resisten terhadap obatobat antibiotik di dalam organ tubuh hiu, para ilmuwan pun merasa khawatir.
Pasalnya, bakteri-bakteri tersebut bisa menular pada manusia suatu hari nanti, salah satunya melalui pengonsumsian hiu.
Seorang ahli ekologi dari Universitas Florida di Gainesville, Amerika Serikat (AS), Jason Blackburn menyatakan bukanlah perkara mudah melawan bakteri-bakteri yang resisten terhadap antibiotik tersebut.
“Kami benar-benar terkejut ketika menemukan sejumlah bakteri yang resisten terhadap berbagai obat di tubuh hiu. Karenanya suatu hal yang sulit diperkirakan untuk menemukan obat-obat yang mampu melawan serangan bakteri tersebut,” papar Blackburn seperti dikutip dari Live- Science.com.
Para ilmuwan menemukan hiuhiu yang menjadi inkubator dari sejumlah bakteri jahat itu hidup di beberapa perairan, di antaranya Florida Keys dan Belize.
Belize merupakan sebuah negara kecil di pesisir timur Amerika Tengah yang berbatasan langsung dengan Meksiko di sebelah barat laut dan Guatemala di bagian barat dan selatan. Hiu-hiu di kedua perairan itu mengandung bakteri yang resisten terhadap beberapa obat antibiotik dalam jumlah besar. Sebaliknya di lepas Pantai Masschusetts dan Louisiana, AS, jumlah bakteri yang bersarang dalam tubuh hiu terbilang sangat sedikit.
Bakteri-bakteri itu diketahui resisten terhadap beberapa obat antibiotik, seperti amikacin, ceftazidime, chloramphenicol, ciprofloxacin, doxycycline, penicillin, piperacillin, sulfamethoxazole, dan ticarcillin.
Sayangnya, penelitian tentang hiu yang menjadi inkubator sejumlah bakteri yang resisten terhadap antibiotik tersebut tidak dilengkapi data pembanding populasi hiu liar seperti hiu perawat dan hiu banteng.
Meski demikian, dari beberapa sampel hiu yang diteliti, para ilmuwan menemukan sejumlah bakteri yang hidup di tubuh hiu-hiu itu resisten terhadap 13 jenis obat antibiotik.
Tidak Sakit Hal yang belum diketahui dengan pasti, bagaimana bakteribakteri itu bisa menyusup ke dalam tubuh hiu.
“Kami akan terus mencoba mencari jawaban akan hal tersebut dan hiu merupakan spesies yang menjadi target penelitian kami karena kedudukannya yang cukup penting sebagai predator utama di dalam rantai makanan di laut,” ujar Blackburn yang memublikasikan penelitiannya di jurnal Zoo and Wildlife Medicine.
Lebih jauh, Blackburn menyatakan dia serta para peneliti lainnya berencana untuk mulai melacak sumber bakteri yang resisten terhadap antiobiotik itu di berbagai lokasi.
Tidak hanya itu, mereka juga mencoba mencari jawaban mengapa keberadaan bakteri-bakteri tersebut di dalam tubuh hiu tidak menyebabkan ikan pemangsa tersebut sakit.
Berdasarkan penelitian terhadap hiu di perairan Florida Keys yang dijadikan sampel diketahui bahwa ikan itu memiliki daya resistensi yang tinggi terhadap beberapa jenis obat antibiotik.
Meski demikian, para pakar menyimpulkan bahwa lokasi perairan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tingkat resistensi hiu.
Jadi, belum tentu hiu yang hidup di luar perairan Florida Keys memiliki tingkat resistensi yang sama terhadap bakteri dengan hiu di perairan Florida Keys. Blackburn dan beberapa koleganya memperkirakan daya resistensi tersebut bisa berasal dari lingkungan sekitar.
Beberapa waktu lalu, para ilmuwan itu mencatat adanya masalah dalam pembukaan tempat pembuangan kotoran (septic tank) di Dry Tortugas, sebuah pulau di Florida Keys.
Kotoran-kotoran manusia yang berasal dari septic tank itu mungkin saja terlarut ke dalam perairan dan dikonsumsi hiu. Tanpa disadari sebenarnya secara langsung hiu mendapatkan antibiotik yang berasal dari kotoran tersebut.
Pada penelitian berikutnya, kata Blackburn, para ilmuwan akan mengamati lebih detail kaitan antara umur hiu dengan daya resistensi terhadap antibiotik. Rencananya mereka akan memilih hiu perawat yang memiliki gerakan lambat sebagai objek penelitian yang ideal.
“Gerakannya yang lambat memungkinkan para peneliti untuk mengambil sampel dengan berulang kali,” tambah Blackburn.
Berbeda halnya dengan hiu banteng dan hiu pemintal yang merupakan perenang cepat. Kedua jenis hiu itu memang dikenal sangat sulit untuk ditangkap dan dijadikan sebagai objek penelitian.
Meski demikian, para ilmuwan berharap dapat mengambil lebih banyak lagi sampel penelitian dari beragam spesies hiu. Selain itu, mereka juga berencana memperluas
daerah pene litian, termasuk ke area-area perairan yang terpencil.
dev/L-4
Sumber:
http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=56069
30 Juni 2010
Langganan:
Postingan (Atom)